Musik ini pengantar bacaanmu di blog RDM

'Saat Menjemput Pujaan Baru' (bag.9)


 
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh..

Tibalah waktu yang telah kurindu, tuk selalu bersama denganmu.
Telah terbuka pintu itu, Akad tlah terucap sudah, sumpah telah diikrarkan,
Dan sekaranglah saatnya Dinda, marilah melangkah…

Kujemput Ma’isyah, Kugapai Aisyah

Sungguh sebuah ungkapan yg cukup indah dan bermakna dalam jika kita mampu mengaplikasikannya. Ma’isyah atau nafkah merupakan salah satu syarat awal yg sangat penting sebagai bekal melangkah saat engkau menjemput pujaanmu. Maaf, jika subjudul diatas seolah menyinggung perasaan kaum akhwat, seolah-olah engkau, para wanita, hanya patut dijadikan obyek yg hanya menunggu atau dijemput, sedangkan dilain pihak, laki-laki bebas untuk memilih alias menjemput. 

Bukan pula maksud saya hendak merendahkan martabat Ibunda Aisyah istri rasulullah yg bgitu agung dan mulia. Hanya saja, siapa sih orangnya yg tidak menginginkan seorang pendamping hidup secantik dan seagung Ibunda Aisyah? Atau setampan dan segagah Sayidina Ali yg alim dan wara..? Dua nama tersebut yaitu Aisyah dan Sayidina Ali, yg sering dinisbatkan sebagai sosok harapan atau impian bagi setiap laki-laki dan perempuan yg hendak memilih pasangan hidup. Saya ingin menggunakan istilah tersebut, yaitu Ma’isyah atau nafkah, dan Aisyah atau calon istri ( pendamping hidup ), karena istilah tersebut sering digunakan oleh para aktivis dakwah.

Satu diantara prasyarat sebelum menikah adalah faktor yg disebut ‘MAMPU”, yaitu Ma’isyah alias kecukupan dalam hal ekonomi. Setelah berhasil menjemput Ma’isyah atau siap memberi nafkah, engkaupun berhak bahkan wajib utk melangkah ke jenjang selanjutnya, yaitu menggapai Aisyah, sang pujaan hati belahan jantung. Suatu saat saya pernah berdiskusi dgn beberapa teman ikhwan dan akhwat, membahas hal-hal yg selama ini sering menjadi problematika dikalangan para ikhwan. Yaitu dari segi Ma’isyah mungkin sudah siap, dan Aisyah pun sudah siap ‘dipetik’, tp ternyata pihak orang tua si wanita yg mempersulit. Alasannya takut anaknya terlantar, takut anaknya miskin, sengsara, tidak bisa makan, dan seterusnya.

Sebenarnya kekhawatiran seperti itu wajar diungkapkan oleh para orang tua. Sebagai orang tua yg maaf -- terkadang pemahaman agamanya masih minim -- kriteria seorang yg sholeh saja tidak cukup menjadi alasan yg kuat utk mengkhitbah anak gadisnya. Sehingga tidak heran, banyak para ikhwan yg penghasilan bekerjanya pas-pasan harus kelimpungan saat ditanya calon mertua: “ Kerjanya dimana Dik? Gajinya berapa sebulan? Nanti setelah menikah tinggal dimana?”..dll.

Keringat dinginpun mengucur. Berbagai pertanyaan yg lebih dahsyat daripada interview kerja akhirnya dihadapi para ikhwan dari orang tua si gadis. Ya, saya rasa engkau saudaraku para ikhwan lebih tahu bagaimna cara menjelaskannya.
Misalnya: ”Pak, maaf saya memang tidak mempunya pekerjaan tetap, tapi insaAllah saya akan tetap bekerja”. Atau :” saya memang tidak berpenghasilan tinggi, tapi insaAllah gaji saya cukup untuk sebulan. Dan kedepannya insaAllah akan berusaha utk lebih baik lagi”. 

Kepada pihak akhwatpun, sebaiknya juga memberi pengertian kpd orangtua bahwa masalah Maisyah atau nafkah adalah relative, artinya tidak harus mentargetkan calon menantunya harus orang kaya atau berpenghasilan tinggi. Karena rejeki yg didapat sedikit akan lebih mengharmoniskan rumah tangga jika iklas dan bersyukur daripada rejeki banyak tapi malah mendatangkan kekufuran.


AKUPUN MENYUSULMU

Saudara dan saudariku fillah..,kegagalan cinta yg pernah engkau jalin kepadanya, boleh jadi bukan lantaran dia sudah memiliki tambatan hati ataupun telah dijodohkan oleh orangtuanya. Mungkin juga sebenarnya dia mengharapkan yg lebih baik dari dirimu. Yaitu lebih sholeh atau sholehah, lebih mapan..dsb. Saya rasa engkaupun demikian. Sebagai manusia normal pasti mengharapkan pendamping hidup yg terbaik. Hal ini pun tidak dilarang dalam agama. 

Nah, saat itulah upaya perbaikan diri dari hari ke hari harus senantiasa engkau lakukan. Karena ketika Allah sudah menganggapmu benar2 siap dan mampu, maka pasangan jiwa itu pun akan diberikan oleh Allah dgn penuh keridhoan. Saat itulah engkaupun dapat berkata: “Akupun telah menyusulmu. Akupun akhirnya menjemput karuniaNya, menyempurnakan separuh agama. Kita akan saling berlomba, saling berdoa, dan akan tetap menjadi saudara, dalam bingkai ketaatan dan takwa, dan tetap saling mengingatkan didalam kebaikan.”
Dan setelah itu, tiada ungkapan termulia yg dapat engkau ucapkan selain syukur kepada Allah yg telah memenuhi janjiNya bahwa dia akan memberikan pasangan hidup yg sudah lama engkau impikan. Yaa..puji Tuhan kepada Allah dan sujud syukur patut engkau lakukan ketika telah kau dapatkan pengganti dia. Menjemput atau dijemput pujaan hati belahan jiwa yg telah dijanjikan Allah. 

“ Dan diantara tanda2 kekuasaanNya adalah DIA menciptakan istri-istrimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesunguhnya pada yg demikian itu terdapat tanda2 kekuasaanya bagi kaum yg berfikir”. ( QS.Ar-Ruum; 21 ).

Subhanallah ! saat itulah yg paling membahagiakan, saat dua insan diikat dgn simpul agung yg kokoh, dibawah naungan iman, ditempa kalimat Rabbaniyah. Ketika dua hati telah menyatu, dua anak manusia berlainan jenis telah ditemukan dalam semulia-mulia ikatan. Menggapai mahligai suci yg dilandasi nilai2 keimanan. Dan akhirnya kembali engkau bisa berucap dimalam pertamamu:
“ Ya Rabbi, akhirnya kutemukan juga, dia yg akan menjadi pelipur lara. Dia yg akan mnjadi pengobat luka dan penentram jiwa. Ya Rabbi, betapa hamba pernah dzalim kepadaMU, betapa hamba prnh ragu akan janjiMU, betapa hamba prnh kcewa dgn keputusanMU. Namun kini hamba merasa seakan surga ada di pelupuk mata. Ampuni segala dosa dan khilaf hamba ya Rabb, sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengampuni Dosa “.


NOBODY IS PERFECT !

Kini engkau telah mendapatkan pengganti si dia. Insaallah lebih baik dari dia yg dulu. Tapi lebih baik disini bukan berarti lebih cantik atau tampan. Tidak juga harus lebih kaya atau lebih tinggi pendidikannya. Tapi kesalehannya yg akan mengantarkan engkau ke surgaNya bersama-sama. Tentu saja jika engkau diberikan kesempurnaan dgn nikmat berlebih seperti pasanganmu yg sekarang lebih cantik atau lebih tampan dari yg dulu maka engkau harus lebih banyak bersyukur. Siapa yg tidak mau kalau begitu..??!

Disisi lain, janganlah sampai engkau merasa bahwa pasangan kita yg sekarang diberikan Allah, adalah lebih jelek dari yg dulu. Jangan sampai, baru melihat SEKILAS tp langsung mengambil kesimpulan. Sahabat, setiap orang psti memiliki kekurangan dan kelebihan, itu sudah sunatullah. Seseorang yg kau anggap special disatu sisi, psti jg memiliki kekurangan dilain sisi. Begitupun sebaliknya. Yaa, NO BODY IS PERFECT. Tiada seorangpun yg sempurna. Selalu akan engkau temui kekurangan dari pasanganmu yg sekarang. 

Yang menjadi masalah sebenarnya bukan kekurangan yg ada pada dirinya, tetapi karena kita lebih menonjolkan kekurangan drpd menggali kelebihan. Kalau sudah bgitu, maka pasti tidak akan tumbuh sikap syukur dan Qusnudzon kepadaNya. Yang ada hanyalah keluhan, penyesalan serta rasa tidak puas dgn apa yg sudah dikaruniakan olehNya. Jangan sampai engkau berpikir seperti itu. Sudah bagus Allah memberikan engkau pasangan, apa jadinya jika Allah mentakdirkan engkau sendirian seumur hidup, engkau pasti tidak mau bukan ? Maka tetaplah bersyukur siapa dan bagaimanapun pasangan kita yg sekarang.


JANGAN SAKITI PERASAAN DIA

Rasulullah bersabda,” Orang islam ialah orang yg menyelamatkan orang islam lainnya dari lisan dan tangannya” ( HR.Bukhari). Dengan sabda beliau yg lain:” Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri ( HR.Bukhari ). 

Lalu apa hikmah nilai dari kedua hadist tersebut..?? Saudaraku, biarpun ketika pujaan baru telah ditemukan, jangan sampai engkau menyakiti perasaan dia yg pernah singgah dihatimu, jangan sampai sakiti perasaan dia yg dulu pernah menolak cintamu. Apalagi engkau akan bersikap sombong dan mengatakan kepadanya: “Inilah aku. Akupun mampu mendapatkan pengganti yg jauh lebih baik dari dirimu”!. 

Jangan sampai hal itu engkau lakukan saudaraku. Karena itu akan melukai perasaannya.
Justru engkau harus berterimakasih kepada dia yg pernah mengobrak-abrik dinding hatimu, yg pernah menolak cintamu. Kenapa demikian? Karena, ketika Allah mentakdirkanmu mendapat pengganti yg ternyata jauh lebih baik dari dirinya, pada hakekatnya itu adalah merupakan ganti dari Allah krn engkau tidak jadi mendapatkan dirinya. Buah keikhlasanmu itulah yg menyebabkan Allah ridho sehingga memberikan yg lebih baik untukmu.

 
JANGAN SAKITI PERASAANNYA

Saudara dan saudariku fillah.., apa bedanya antara subjudul ini dgn subjudul sebelumnya: ‘Jangan Sakiti Perasaan Dia’ dan ‘Jangan Sakiti Perasannya’..? bedanya adalah, pernyataan yg pertama jangan engkau sakiti perasaan si dia yg telah mengecewakan cintamu dgn menolak cinta yg prnh engkau tawarkan, sedangkan pernyataan yg kedua adalah Jangan engkau sakiti pasangan yg sekarang menjadi pujaan hati belahan jiwamu yg sekarang mendampingimu.

Sungguh, akan sangat menyakiti hati dan perasaan pasanganmu..bila saat berdekatan dgn pendampingmu yg sekarang, tp hati dan pikiranmu ternyata masih memikirkan dirinya yg dulu. Apalagi jika engkau masih sering menyebut-nyebut namanya didepan pasanganmu kini. Duh, istighfarlah sahabat, betapa engkau telah kufur nikmat dan Allah pasti akan membalas kezalimanmu ! 

Yakinlah bahwa pasanganmu yg sekarang..suami atau istrimu, adalah pasti lebih baik dari yg dulu. Mungkin dari segi fisik tidak sebaik dulu, tidak secantik atau setampan dia yg dulu. Tidak juga sekaya atau selevel dalam pendidikan tinggi drpd yg dulu. Namun, dari segi kemuliaan akhlak, budi pekerti dan pengetahuan agamanya justru lebih baik, bahkan diatas rata-rata. Nah, factor inilah yg akan membahagiakanmu lahir dan batin. Engkau akan menemukan penentram jiwa dan pelita hidupmu yg sebenarnya.

Nah, sahabatku..bila pasangan jiwamu telah engkau miliki sekarang, namun ternyata engkau masih memikirkan dia yg dulu, alangkah dzalim dan tidak bersyukurnya dirimu ! sudah diberikan yg halal dan ada didepan mata, namun engkau masih memikirkan yg tidak ada. Afwan, lantas apalagi sebutan yg pantas untukmu kalau begitu, Sahabat..??

 
BILA RUMPUT ENGKAU LEBIH HIJAU

Sekarang, bagaimana bila rumput engkau lebih hijau? Dalam artian, bagaimana bila pasanganmu yg sekarang ternyata memang benar2 lebih baik dari dirinya yg dulu?
Yaa, tentunya engkau memang harus lebih banyak bersyukur berlipat-lipat. Kalau memang rumput sendiri lebih hijau, rasanya tidak perlu lagi melihat-lihat lagi rumput lain. Namun terkadang sifat manusia adalah serakah. Nabi SAW pun pernah memberikan gambaran: ” seandainya manusia diberikan dua buah bukit emas, apakah akan menjadikan mereka puas? Ternyata tidak ! Mereka pasti akan berusaha mencari bukit emas yang ketiga”. Itulah manusia, tidak akan pernah puas kecuali setelah nafas sampai ke tenggorokan alias ajal datang merenggut nyawa. Ada seorang bijak yang berkata: “ Dunia sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia, tetapi tidak akan pernah cukup untuk memuaskan keserakahan hanya bagi seorang anak adam saja” !

Dalam hal inipun demikian. Adakalanya seseorang yg sudah memiliki pasangan yg ideal, semua criteria sudah ada dalam diri pasangannya, ternyata masih juga melihat rumput lain milik teman dan milik tetangga. Memang, terkadang rumput tetangga atau orang lain kelihatan lebih hijau dari rumput sendiri. Sebaliknya, orang lainpun mungkin justru menganggap rumput kita lebih hijau dari rumput miliknya. Analoginya begini: Coba perhatikan pelangi. Pelangi itu tidak akan pernah berada diatas kepala kita sendiri. Orang lainpun demikian. Seakan-akan pelangi hanya berada diatas kepala teman2nya. Kalau sudah seperti itu, lantas kapan akan bersyukur..??! Padahal Allah sudah mengecam dengan keras: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmatKU kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmatKU, maka sesungguhnya azabku sangat pedih”. (QS.Ibrahim; 7 ).

Oleh karena itu saudaraku, mulai sekarang harus kau ingat: kalau memang engkau sudah mendapatkan pengganti dia, apalagi “lebih hijau” dari yang dulu, jangan sampai engkau ‘melihat-lihat dan melirik’ apalagi menjarah “rumput” lain. Awas ya, kalau malah jelalatan, engkau sendiri yg akan tanggung akibatnya !

 
DUNIA ADALAH PANGGUNG SANDIWARA

Ada sebuah lagu ‘Dunia ini Panggung Sandiwara, ceritanya mudah berubah. Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura” demikian kata lirik lagu tersebut. Jujur saya tidak tahu itu lagu siapa. Tapi yg jelas saya sangat setuju dengan lirik lagu tersebut. Bahwa dunia ini hanya panggung sandiwara, dan sang Sutradara Tunggal adalah tidak lain dan tidak bukan yaitu Allah ‘Azza Wajalla. Setiap orang akan memainkan perannya snediri2 di dunia ini. Ada yg berperan sebagai petani, guru, tentara , ustadz bahkan penjahat. Sementara scenario cerita sudah diatur secara lengkap dalam kitab induk: Al-Qur’an.

Lantas apa hubungannya….?? Saudaraku fillah, saya rasa engkau sudah tahu apa yg saya maksud. Kejadian apapun yg menimpa kita dulu, seperti tertolaknya cinta dan gagalnya pinangan yg engkau ajukan kepada dirinya dahulu, pada dasarnya adalah sudah tertulis alur ceritanya, yaitu di Lauh Mahfuzh ! sehingga, permasalahan apapun akan terasa ringan ketika engkau menganggap dunia ini adalah panggung sandiwara, tempat masing2 orang akan memainkan perannya sesuai scenario cerita.

Ketika engkau mengalami keberhasilan, engkau pun sadar bahwa ini adalah episodenya utk berhasil. Dan ketika mengalami kegagalan, engkau pun jg sadar bhwa itu adalah episode yg memang harus kau mainkan. Semuanya telah tertulis, dan segalanya telah tercatat. Sekecil-kecilnya, sedetail-detailnya. “ Tidak akan luput dari pengetahuan Tuhanmu sebesar zarrah (atom) yg ada dibumi ataupun dilangit. Tidak ada yg lebih kecil ataupun lebih besar dari itu, melainkan semua telah tercatat dalam kitab yang nyata ( Lauhul Mahfuzh ). (QS.Yunus; 61).

Jadi apapun yg menimpamu, kalau kita menganggap seperti aktris atau actor panggung sandiwara tersebut, insaAllah engkau tidak akan pusing, stress, apalagi sampai gila, karena engkau sadar bahwa dirimu hanyalah pemeran atau pelaku cerita. 

Oleh karena itu, sekali lagi saya katakan..mulai saat ini, beranikan dan tegaskan dirimu untuk berkata: “ SELAMAT TINGGAL MASA LALU ”! dan sekarang sambutlah masa depanmu dengan Sang Pujaan Baru ! amin dan semoga..^_^.


Brakallahufiikum..
Wassalam


(REF: Fadlan Ikhwani)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar