Musik ini pengantar bacaanmu di blog RDM

'Harum Mewangi Sebelum Menikah'



Bismillaah..

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yaasin 36:36)                       
*****

"Ya Allah, siapakah gerangan sahabat sejati yang Engkau pilihkan untukku?, yang mau menemaniku merenda hari-hari untuk beribadah kepada-Mu, yang mau berbagi suka dan duka dalam mengharungi hidup ini, yang menjadikanku kokoh kuat dalam menegakkan kalimat-Mu, agar.. diriku lebih mensyukuri segala nikmat yang telah Engkau berikan, agar.. diriku lebih dekat kepada-Mu.."

Nisa tertegun mendengar do'a Ayuning di keheningan malam. Sahabatnya itu memintanya untuk menemani tidur karena orangtua Ayu ke luar kota. Do'a itupun usailah sudah, wajah Ayu bersemu merah ketika tahu Nisa terjaga dari tidurnya.

"Kamu mendengar do'aku Nisa?", Nisa tersenyum, "Apakah do'a itu yang s'lalu Ayu panjatkan pada Allah?", Ayuning diam, perlahan titik-titik embun jatuh dari kelopak matanya. "Aduhai sayang.." Ujar Nisa seraya merangkul sahabatnya, perlahan ia menyeka air mata itu, setelah agak tenang.

"Ayu.., apa yang menjadi keinginanmu adalah cita-cita seluruh wanita mukminat di dunia ini, namun jikalau ia belum terwujud, itu adalah rahasia Allah, Yang Menciptakan kita, bukankah Ia menciptakan makhluk-Nya menurut ukuran-ukuran yang telah ditetapkan? kita selaku hamba-Nya hanya bisa berusaha dan ikhtiar, dan hanya Allahlah yang menentukan.

Bukankah Ayu mencintai Allah?, rasa itu akan membuat Ayu yakin, Allah akan memilihkan yang terbaik untukmu. Demi Allah Ayu.., Allah Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya, karena itu, bersyukurlah bahwa Ia masih memberimu kesempatan untuk menjadi wanita yang lebih baik dari sekarang.
Ayu harus kuat dalam mengitari perputaran roda kehidupan ini, karena perkitarannya semakin hari semakin cepat. Jangan pernah berhenti sesaatpun, Ayu.. masih banyak yang perlu Ayu perhatikan, masih banyak yang memerlukan perhatianmu. Kita datang ke alam ini sendirian, Ayu.. dan kita juga akan pulang sendirian. Ayo.. jangan sedih-sedih lagi, ya.. mana senyum manisnya?.." 

Ayu tersenyum pada Nisa, dari bibir mungil itu keluar kata, "Tolong do'akan Ayu ya.." Nisa membalas senyuman tulus itu, "Ia, Ayu.. Nisa do'akan" Mereka berdua sujud syukur pada Allah, melanjutkan malam itu dengan tenggelam akan kerinduan beribadah kepada Allah. Semenjak malam itu, Nisa lama tak bertemu Ayu, iapun maklum dengan kesibukan sahabatnya.
                            *****

Fikiran Ayu menerawang, matanya menatap lekat langit-langit kamar, seketika ia terjaga saat mendengar telpon berdering, kriiing.. kriing... Samar-samar terdengar suara ibunya berbicara, "Ayu?, dari siapa ya?, tunggu sebentar." Ibu bergegas ke kamarnya, "Ayu.., ada telpon dari Herman." 


Ini sudah kesekian kali pemuda itu menelponnya, kalau sudah di udara, melayang.. lupa segala-galanya. Entahlah iapun tidak tahu kenapa, ada getar-getar halus yang menyusup ke relung hatinya saat berbicara dengan sosok insan yang satu ini, hampir tak sepatah katapun yang bernilai sia-sia. 

Yang mereka bicarakan seputar mencarikan jalan agar anak-anak jalanan mampu mandiri tanpa meminta-minta, menanamkan ajaran tauhid agar anak-anak tersebut terbentengi dari pihak-pihak yang ingin meracuni fikiran mereka supaya berpindah agama, yach Herman punya kepekaan sosial yang tinggi, sangat peduli terhadap nasib hamba-hamba Tuhan. 

Pemuda seperti inilah yang didambakan Ayu selama ini, dan rasa itu semakin kuat saat Herman berterus terang menyukai kelembutannya, kecantikannya, dan betah berlama-lama berbicara dengannya, ah.. tetapi apakah mungkin persahabatan mereka dapat berganti menjadi sebuah ikatan perkawinan? sedangkan ia tahu kenyataannya bahwa Herman telah mempunyai calon istri?! dan apa yang ditakutinya selama ini terbukti..

"Kamu baik-baik saja kan, Ayu?.. bulan depan saya akan menikah. Sebenarnya.. Herman mencintaimu Ayu, tetapi kami telah dipertemukan lebih dulu. Seandainya saja saya lebih dulu mengenalmu.., maafkan saya, Ayu.., " Ayuning tak sanggup mendengar kelanjutan kata-kata itu, air matanya jatuh tanpa suara, ia berusaha keras menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya, karena ia sadar semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah, jika ia tak terima sama artinya ia melawan takdir Allah. 

Ayu masih belum mampu mengendalikan diri, tak pernah diduganya akhir hubungannya akan jadi begini. Herman, pemuda yang disangkanya adalah sahabat sejati yang dipilihkan Allah untuknya, ternyata.. perlahan dibukanya Diary Merah Jambu yang berisi ungkapan rasanya dengan pemuda itu.

                       *****
Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman pada hari kiamat kelak: Mana orang-orang yang saling mencinta karena Keagungan-Ku? Hari ini Ku-naungi mereka, dimana tidak ada naungan yang lain selain naungan-Ku. (HR. Muslim) 

                        *****
Untukmu Sahabatku,
Sahabat, tahukah engkau?, nasihatmu menduduki peringkat pertama di hatiku. Kemarin.. engkau mau mendengar keluhanku, kemarin.. engkau beri jiwaku tetesan embun, dan kemudian.. kau tinggalkan aku.
Akhirnya, diujung batas kesendirian ini, aku temukan satu jawaban, bahwa kehidupan ini akan terasa indah, jika kita senantiasa dekat dengan Allah, Ya Allah... Sahabat, kini kau datang lagi menghampiriku, dan bertanya, "Bagaimana khabarku saat ini?", sambil tersenyum aku berkata, "Alhamdulillah...", dan aku terharu saat mendengar, bahwa engkau sayang padaku.
 
Wahai sahabatku, janganlah engkau bosan untuk menasihatiku, jangan pula bosan untuk menyayangiku, bukankah kehidupan ini akan terasa indah jika kita saling sayang?, saling cinta?, Mencintai karena Allah. Sahabat, mencintai menjadikan kita kuat untuk tetap berpegang pada tali Allah, dan mari kita tebarkan rasa cinta ini ke segenap penjuru bumi, agar senantiasa damai hati insani.. Semoga Allah membalas segala kebaikanmu padaku, Sayangku s'lalu untukmu.
 
Perlahan Ayu menutup Diarynya, air mata mengucur deras dari kelopak matanya. "Ya Allah.. kenapa rasa ini harus ada?, bagaimana mungkin aku memikirkan seseorang yang bukan Engkau takdirkan untukku?!."
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah 2:216) 

                         *****
Dengan Nisalah Ayu selalu berbagi cerita suka dukanya, begitupun sebaliknya.    "Semua telah berakhir, Nisa!, aku harus menerima kenyataan bahwa herman bukanlah untukku, walau terkadang aku masih berharap Allah akan merubah segalanya, namun kecintaanku pada-Nya membuat aku yakin, bahwa ini adalah yang terbaik yang diberikan-Nya.

Sebenarnya aku menaruh harapan besar pada hamba Allah yang sholeh itu, untuk menjadi sahabat yang dapat kuajak bersama mengelilingi perputaran roda ini, bagaikan Matahari dan Bulan yang silih berganti menerangi alam, menjadi khalifah bagi insan taqwa di bumi ini.
Namun sekali lagi aku sadar, apa yang menurutku baik belum tentu baik menurut-Nya, aku tidak tahu apa-apa, sedangkan Allah Maha Mengetahui segalanya. Yang terpenting bagiku kini, menjalani hidup ini bagai air yang mengalir, jika tiba saatnya nanti, insya Allah." Kata-kata mutiara itu meluncur deras dari bibirnya, terdengar begitu tegar, sangat tegar. 

"Apakah pemuda itu tahu perasaanmu, Ayu?," tanya Nisa. Ayuning tersenyum. "Ia tahu, Nisa.., dari perbincangan kami yang panjang, dari persahabatan kami yang cukup lama, aku yakin ia juga merasakan hal yang sama, tapi sudahlah.. Pemuda itu lebih dahulu mengenal wanita itu daripadaku, ia juga memutuskan untuk menikahinya karena petunjuk Allah. Semoga Allah memberkahi pernikahannya dan melimpahkan keberkahan atas pernikahannya." "Aamiin", ucap Nisa.

"Mungkin wanita itu lebih baik dan lebih taqwa dariku, ya Nisa?."  Sebelum sempat Nisa berkomentar, Ayu telah meralat ucapannya. "Tapi bukankah yang berhak menilai baik dan taqwanya seseorang hanyalah Allah?!.."
"Iya, Ayu.." Nisa membenarkan ucapan sahabatnya. "Eh, sudah jam 10, kita ke rumah Ana yuk." Kedua sahabat karib itupun pergi ke rumah sahabatnya yang baru melahirkan. Di atas langit terlihat mendung.
                         *****
"Subhanallah lucunya..," mata Ayu dan Nisa berbinar melihat bayi mungil Ana, buah hati itu terlihat sehat, kulitnya putih dan rambutnya lebat sekali. Ayu sebenarnya ingin menggendong, tapi khawatir terjadi apa-apa karena si mungil baru berusia 5 hari, sementara di luar sana hujan turun dengan derasnya.
Ana begitu antusias menceritakan pengalaman melahirkannya, dan Ayu begitu menikmatinya, sesekali ia tampak merinding. Menghadapi masa-masa menstruasi saja sudah sedemikian menderita, apalagi kalau melahirkan ya?, bathinnya. Perasaan cemas itu semakin menjadi-jadi saat ia teringat Firman Allah yang menceritakan betapa sakitnya Maryam melahirkan Nabi Isa, a.s. sehingga ia berkata;
"Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan." (QS. Maryam 19:23) 

"Sebenarnya aku pingin operasi caesar, supaya nggak sakit, tapi.. mulut ini mau bicara susahnya minta ampun, akhirnya kupikir sudahlah, pasrah saja..," Ana terlihat menarik nafas. "Melihat si mungil lahir, Subhanallah.. rasa sakitku mendadak hilang... Maha Besar-Nya Allah, ya.." Ungkap Ana melukiskan kebahagiaannya.
Mendengar penuturan sahabatnya, ada sesuatu yang menusuk hati Ayuning. Terkadang ia masih dihantui rasa takut jika nanti sudah menikah. Membayangkan dirinya akan hamil dan punya anak. Iapun menyadari kesibukannya dengan berbagai penelitian tumbuh-tumbuhan sampai terkadang lupa waktu, mengurus diri sendiri saja sudah kalang kabut, apalagi mengurus suami dan anak-anak? fikirnya. 

Tapi rasa itu selalu ditangkisnya, bukankah melahirkan adalah kodrat perempuan?!, bukankah anak adalah rezeki yang tak ternilai?!, sementara banyak terjadi pasangan, akibat menunda kehamilannya di awal pernikahan, beresiko tinggi tidak dianugerahi keturunan.
Yach.., mungkin Allah murka pada mereka. "Duhai Allah, jadikanlah aku hamba-Mu yang bersyukur atas segala karunia-Mu," Ayu berdo'a dalam hati.

"Kok melamun sich Ayu?," tanya Ana menyadarkannya. "Eh.. bagaimana dengan pemuda itu?," Ayu sempat cerita pada Ana tentang kedekatannya dengan Herman, mendengar pertanyaan Ana, wajah Ayu berubah sendu, perlahan ia mulai menjelaskan, 

"Ternyata dia bukan jodohku Ana, ia akan menikah bulan depan." Melihat kedukaan Ayu, Nisa berusaha mendinginkan suasana, "Ah.. kalau ada jodoh tak akan lari kemana..," serunya. "Hush.. aku belum siap jadi istri kedua!," sungut Ayu pura-pura marah, diiringi tawa kedua sahabatnya. "Kalau kamu sudah punya calon Nis?," tanya Ana hati-hati, "Nisa sich menunggu pangeran dari langit," ucapnya ringan.

Sejenak obrolan mereka terhenti melihat kehadiran suami Ana, ia begitu perhatian sekali terhadap istri dan anaknya. Karena tak ingin mengusik terlalu lama, iapun segera pergi.
"Punya suami itu enak lho Ayu, Nisa.. ada tempat untuk berbagi, beda saat masih sendiri, perasaan kita selalu gelisah, ada aja yang difikirkan. Bathin orang yang sudah menikah itu jauh lebih tenang, karena arah tujuan hidup mereka jelas." 

"Ah.. Ana, kamu bisa aja!," celoteh Ayu. "Nggak percaya?, buktikan aja sendiri!," Kata Ana meniru iklan televisi, dengan maksud meyakinkan kedua sahabatnya.
Diam-diam Ayu asyik memperhatikan bayi mungil Ana yang tertidur lelap, ada rasa keibuan yang mendorongnya untuk memberanikan diri menggendong bayi itu, pelan dan sangat hati-hati. Nisa dan Ana membantu, keduanya saling berpandangan. 

Saat si mungil ada dipelukannya, perasaan Ayu berbunga, sulit diungkap dengan kata-kata, yang jelas hatinya begitu bahagia. Pelan diciumnya lembut bayi itu. Melihat sahabatnya, Nisa tak enak hati mengganggu, tapi mereka masih akan pergi ke beberapa tempat, sedangkan hari sudah siang, "Yu.. kita pulang yuk?.." katanya pelan, sementara hujan di luar sana telah reda. Merekapun pamit, "Makasih ya, Ayu.. Nisa.. hati-hati di jalan." Ketika keduanya hampir di mulut pintu, "Nis.. nanti lihat-lihat ke atas ya.. kali aja pangerannya nyangkut di pohon," canda Ana.
                          ****                         **********
"Nis, kini Ayu mulai menyadari kenapa Allah belum mengizinkan Ayu menikah, Ia ingin Ayu mengabdi dulu pada orangtua. Ayu juga mulai memahami kenapa Allah menghendaki Ayu masih sendiri, agar Ayu lebih menempa diri untuk siap menjadi seorang ibu di bumi ini, agar ayu senantiasa memperbaiki diri ayu dari hari ke hari, sehingga suatu saat jika Allah menghendaki ayu sudah siap menikah maka Allah pasti akan memberikan jodoh ayu tanpa diminta!.."

Subhanallah. (Nisa membathin), ia kagum pada kecerdasan sahabatnya membaca Firman Allah dan rahasia cobaan Allah. Tiba-tiba matanya tertegun melihat serumpun Melati yang tumbuh subur di taman itu, dalam hati ia berkata, “Melati itu semakin harum mewangi, Ya Allah.. aku memohon pada-Mu, berikanlah yang terbaik bagi-Mu untuknya, Aamiin”.  

Sejenak Ayu dan Nisa tertegun mendengar syair lagu dari balik jendela kamar Ayu yang persis menghadap taman, lagu di radio itu, lagu yang punya arti tersendiri bagi keduanya.

"Kau bunga di tamanku,
di lubuk hati ini,
Mekar dan harum mewangi,
Melati suntingan hati.
Bersemilah di tamanku, di lubuk hati ini,
Agar dapat ku resapi, hadirmu bagiku.
Kau Melati, Putih nan bersih,
kau tumbuh di antara belukar berduri,
Seakan tak perduli lagi,
meski dalam hidupmu kau hanya memberi,
Kau sebar harum s'bagai tanda,
cinta yang t'lah kau hadapi,
Di sepanjang waktu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar