Musik ini pengantar bacaanmu di blog RDM

Metode Edukasi Rasulullah (bag 1)






METODE 1 : Praktek secara langsung (Dakwah bil haal)

Dalam ilmu-ilmu yg pengajaran dan penyampaiannya membutuhkan praktek, Rosululloh selalu melakukannya dgn memberi contoh langsung, tidak cuma teori saja. Bahkan sebelumnya beliau telah melakukan dan mengamalkannya ebih dahulu.
Karena pada dasarnya, dgn praktek langsung, pengaruhnya lebih besar dan illustrasinya menancap lebih kuat di hati dan otak murid, sebab dia tahu secara langsung contoh bukti dan gerakannya, sehingga murid dapat langsung mempraktekkannya dan lebih terdorong untuk itu.
Berbeda dgn hanya teori saja tanpa praktek. Kepercayaan murid lebih besar saat melihat guru melakukan dan memberi contoh secara langsung.

contoh metode praktek langsung yg diterapkan Rosul inii sangat banyak, seperti brikut:
Beliau menganjurkan para sahabatnya utk profesional dlm olahraga renang, memanah dan berkuda, beliau sendiri ahlinya dalam tiga cabang olahraga itu.
Beliau menganjurkan sahabatnya utk berani dan ksatria dalam bertempur. Beliau sendiri dalam setiap ekspedisi dan saat perang berkecamuk, selalu ada di baristerdepan.
Apalagi dalam hal ibadah, beliau adlh orang yang nomor satu dalam hal ini. Praktek secara langsung dan terus melakukannya secara kontinyu, sampai kaki beliau bengkak sebab panjangnya beliau dalam beribadah.


Contoh pengajaran secara praktek yg terucap dalam hadits beliau semisal hadits yg lafaznya 'Shollu kamaa ro-aitumuuni Usholli' (sholatlah sebagaimana kalian melihat gerakanku saat sholat), atau 'Khudzuu anni manaasikakum' (ambillah dariku praktek ibadah haji kalian).
Misal lain, ketika ada orang brtanya pada beliau bagaimana cara berwudlu? mka beliau langsung memerintahkan untuk diambilkan seember air, dan beliau langsung memberikan pelajaran berwudlu secara praktek langsung di hadapan orang yg bertanya tadi.

hasilnya, apapun yang beliau perintahkan, yg beliau larang, beliaulah orang pertama yg melaksanakan apa yg diperintahkan, dan menjauhi apa yang dilarang.

Contoh dari metode ini sangatlah banyak. Dan metode ini adalah metode yang paling sering beliau gunakan dlm mengajar sahabat2nya dan oranglain, juga metode beliau yang paling menonjol. Sebab pada dasarnya beliau memang diutus tidak sekedar memberikan teori saja, tetapi sekaligus prakteknya.


METODE 2 : memberikan pelajaran secara gradual atau berangsur angsur.

Di antara metode mengajar yg diterapkan Nabi, adalah beliau sangat memperhatikan skala prioritas, dan mengajarkannya tidak langsung sekaligus, tetapi berangsur-angsur, sedikit demi sedikit dan pelan2, dgn tujuan agar lebih mudah dipaham dan menancap lebih kuat dalam ingatan. hal inipun yg dilakukan Allah SWT saat menurunkan wahyu kpd bliau, Allah tidak menurunkan ayat2 alquran sekaligus, tp secara berangsur angsur dan bertahap. dgn bgitu pemahaman akan lebih mudah dan menancap.

Salah satu shabat bliau yg bernama Jundub bin Abdillah ra bercerita : “ketika kita masih dalam masa2 pubertas, kita belajar pada nabi, dan beliau mengajari kita tentang keimanan, sebelum kita belajar Alquraan. Setelah itu, baru kita diajari (isi kandungan dan tata cara membaca) alquran. Sehingga iman kita makin bertambah (dan menguat)" (H.R. Ibnu Majah).

Sebagian sahabat juga berkata: "Rosulullah mengajarkan kami tiap hari 10 ayat, dan beliau tidak akan menambah pelajaran lagi sebelum kami faham betul dan menguasai serta mengamalkan apa yg didalam 10 ayat tadi. Baru setelah itu beliau menambah pelajaran lagi" (H.R.Ahmad).

Begitu pula pengajaran akan larangan meminum minuman keras, tidak serta merta langsung, namun wahyu yang berbicara tentang itu, turun berangsur sampai 4 kali. maka jangan heran jika dulu umar bin khatab sering sholat dlm keadaan mabuk krn saat itu belum tunrun ayat tntg diharamkannya khmer dan rasul jg mendiamkan. baru setelah ayat2 tentang hukum2 fikih turun, tentang halal haram, maka rasul melarang umar meminum khamer. dan umarpun mnjwab sami'na wa athona.

Hal itu tentu saja akan berbeda jika seorang pengajar memberikan ilmu pada muridnya sekaligus, maka justru akan lebih cepat pula hilang, dan malah kebingungan yg terjadi.

METODE 3: Dengan menghindari Kejenuhan murid

Rasulullah dalam cara mengajarnya, sangat memperhatikan waktu dan keadaan psikologi para sahabatnya. Beliau tidak sembarang waktu dlm mengajar, begitu juga tidak monoton dgn ilmu yg itu-itu saja. Hal itu beliau lakukan agar para sahabatnya tidak mengalami kejenuhan dan kebosanan.
Sebab kebosanan yg dialami seorang murid, jika berkepanjangan, adalah bisa menjadi sebab dari gagalnya proses belajar mengajar.
Hal itu ditempuh utk mengembalikan semangat belajar dan membuat otak mereka fresh kembali, sehingga ilmu tentu dgn mudah akan diterima oleh mereka.

Salah seorang tabiin bercerita :”Abdulloh bin Mas’ud.r.a., salah satu sahabat senior Nabi, setiap hari kamis selalu memberikan nasehat dan petuah pada kita, dan kita sangat menyukainya serta selalu menunggu hari itu. Suatu hari kita meminta beliau utk menyampaikannya tiap hari. Namun beliau tidak mengabulkan permintaan kami seraya berkata : 'sebenarnya aku melakukan ini seminggu sekali, agar kalian tidak bosan. Sebagaimana yg telah Rosululloh lakukan, beliau tidak memberikan kita pelajaran dan bimbingan stiap hari, khawatir kita hilang ghirah dan bosan' (H.R.Bukhori).


METODE 4 : Memperhatikan perbedaan kemampuan dan tingkat inteligensi stiap murid.

Sebagai pengajar atau guru atau kyai atau ustad, tentu kita memahami bhwa tidak semua murid yg kita ajar memiliki kemampuan yg sama, tiap murid memiliki tingkat kecerdasan yg berbeda.
Hal ini, oleh Nabi S.a.w telah beliau contohkan, beliau sangat memperhatikan perbedaan itu yaitu tingkat kecerdasan murid yg berbeda bead.. Beliau mengajar tiap individu sesuai kadar kecerdasannya. Apa yag beliau ajarkan pada sahabat junior, tidak sama dgn yg beliau ajarkan pada sahabat senior.

Dalam menjawab pertanyaan pun beliau tidak asal jawab, tapi melihat bagaimana kemampuan pemahaman dan tingkat kecerdasan yang bertanya. Sebuah kaidah dasar telah beliau berikan pada kita. Anzili-n Naasa ‘ala qodri ‘uquulihim. Bicaralah pada orang lain sesuai dgn kadar kemampuan berpikirnya.
kadang byk orang salah kaprah disini yaitu memaksakan pemikirannya kpd oranglain utk mengikuti pola pikir sesuai dgn pemikirannya. tindakan yg halus tp terkesan memaksa dan tak kelihatan.

Dalam karya monumentalnya, ihya’ ulumiddin, Imam Ghozali berkomentar: “Seseorang yang kita beri pelajaran, namun dia tidak bisa memahami dgn baik apa yang kita ajarkan, karena tidak mampu dijangkau oleh akalnya, itu terkadang malah mengalami kesalah pahaman. Lebih parah dari itu, terkadang kesalah pahamannya itu malah menimbulkan fitnah.”

Maka, penyampaian sebuah materi pelajaran, harus sesuai dgn tingkat usia dan tingkat kecerdasan murid. Sebisa mungkin dituntut dari kita, keterangan yang kita sampaikan, bisa dipahami dengan baik oleh semua murid yang kita ajar, baik yang bodoh ataupun yang cerdas.

Hal ini juga dikatakan oleh Abdulloh bin Mas’ud dan contoh dari apa yang Rosul lakukan dalam masalah ini, adalah kisah Mu’adz bin Jabal brikut:.

Beliau bersabda pada Mu’adz :”Siapapun yg bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya, dengan sepenuh hati (cukup itu saja), maka dia tidak akan masuk neraka.”
Mu’adz pun menjawab :”jika memang begitu, akan saya sebarkan hal ini pada semua orang, biar mereka bergembira”
Segera Rasul menjawab :”Oh, jangan, nanti malah mereka enak-enakan, tidak mau beribadah”.
lalu Rosul memberikan isyarat pada Mu’adz, agar jangan setiap orang yang diberitahu, kecuali mereka yang benar-benar telah mantap amal ibadahnya.


Ada juga sebuah kisah, seorang pemuda datang pada Beliau dan bertanya: “Wahai Rosul, jika puasa, boleh apa tidak saya mencium istri saya?”
“Tidak boleh”, jawab beliau.
Sejenak kemudian datang orang tua dan bertanya hal yang sama pada beliau, dan beliau jawab: “Ya, tidak apa-apa kamu menciumnya”.


Tentu saja para sahabat terheran-heran dan saling pandang di antara mereka, mengapa jawaban tidak sama, sementara pertanyaan sama.
Mengetahui hal itu, dengan bijak beliau menjawab :”Kalau yang tua tadi, pasti bisa menguasai diri dan nafsunya, jadi tidak akan kebablasan (melakukan senggama).” (H.R.Ahmad)


METODE 5 : dengan Dialog dan tanya jawab.


Salah satu yg menonjol dari metode Nabi Saw dalam mengajar adalah kerap kali beliau mengajar dgn cara berdialog dan tanya jawab. Sebab dialog sangat membantu sekali dalam membuka kebuntuan otak dan kebekuan berpikir.

Contoh dari itu, suatu hari Nabi bertanya pada sahabat2nya: “Andai di depan rumah kalian ada sungai, lalu kalian mandi 5 kali sehari, apakah akan ada kotoran yang tertinggal di tubuh (kalian)?”
“Tentu tidak wahai Rosul”, jawab mereka.
“Begitu juga sholat 5 waktu, yang dengannya dosa-dosa dan segala kesalahan dihapus oleh Allah Ta’ala”. (HR.Bukhori dan Muslim).

Atau pertanyaan beliau : “Kalian tahu tidak, siapakah muslim itu?”
“Allah dan Rosulnya yang lebih tahu”, jawab para sahabat.
“Orang muslim adalah orang yg teman2 dia selamat dari gangguan lidah dan tangannya. kalau orang Mukmin?”
“Allah dan Rasulnya yang lebih tahu”.
“orang mukmin adalah orang yang teman2nya merasa aman atas diri dan harta mereka dari gangguannya. Sedangkan Muhajir, adalah orang yang meninggalkan kejelekan-kejelekan dan menghindarinya”. (H.R. Ahmad).

“Kalau orang yang bangkrut itu bagaimana?” tanya beliau juga pada para sahabat di lain kesempatan.
“Tentu saja orang yang tidak punya uang dan harta”, jawab para sahabat beliau.
Dengan bijak beliau menjawab, “Sesungguhnya orang yg bangkrut di kalangan ummatku, adalah orang yg datang pada hari kiamat dgn amal ibadah lengkap. Hanya sayangnya dia suka mencaci maki, menggunjing, korupsi, mengganggu, sehingga semua pahala amal baiknya digunakan utk menebus keburukan-keburukan itu sampai habis. Jika keburukannya itu belum tertebus semua, maka kesalahan2 orang lain yang disakitinya, ditimpakan kepadanya. Dan pada akhirnya dia diceburkan ke Neraka”. (H.R. Muslim).


METODE 6: Diskusi dan Dialog

Di antara salah satu metode Rosululloh dlm mengajar adlh beliau kerap menempuh cara diskusi, dialektika, melakukan prbandingan secara logika, dan pendekatan psikologi. Hal itu beliau gunakan utk mencabut keraguan dan kebatilan dari hati seseorang yg beranggapan bhwa hal yang batil itu bagus. Atau untuk menancapkan sugesti tentang kebenaran di hati seseorang yg sebelumnya enggan dan cenderung menjauhi kebenaran itu.

Metode yang beliau tempuh ini adalah petunjuk bagi para pengajar dan pendidik untuk menggunakan perbandingan secara logika rasional jika keadaan menuntut untuk itu.

Contoh dari metode ini, sebagaimana sbuah hadist yg diriwayatkan Ahmad bin Hambal dan Thabrani, sbagai berikut :
Pada suatu hari datang pada bliau seorang pmuda yg minta diijinkan baginya untuk berzina. Beliau tidak lantas memarahinya (padahal sahabat di sekitar beliau sudah hampir meluapkan kemarahan melihat kelancangan pemuda itu). Beliaupun juga tidak menggunakan dalil Alquran yg menegaskan haramnya zina. Tetapi beliau menyuruh pemuda itu utk mendekat, dan dgn bijak diajaknya pemuda itu berdiskusi.

“Kamu suka tidak andai ibumu dizinai orang?”
“Tidak wahai Rosul, Demi Allah ! Tak ada seorangpun yang mau ibunya dizinai !”
“Nah, kalau sekarang putrimu dizinai, kamu rela tidak?”
“Tidak ya Rosul, Demi Allah ! semoga Allah menjadikanku tebusan bagimu, tidak ada orang yang rela putrinya dizinai !”
Dan Rosul terus menanyai, bagaimana jika hal itu menimpa saudarinya, bibi-bibinya (atau juga jika istrinya kelak diselingkuhi), jawaban pemuda itu pun juga tetap sama.
Lalu Rosul menaruh telapak tangan beliau di pundak pemuda itu seraya berdoa, “Ya Allah, ampunilah dia, bersihkan hatinya, jagalah kemaluannya”.
Sejak itu pemuda tadi tidak lagi punya pikiran dan keinginan untuk berzina.


Contoh lain, adlh hadist riwayat Bukhori dan Muslim. Pada suatu saat di Hari Raya, Rasul melewati sekelompok wanita, beliau lantas berujar.
“Wahai kaum wanita, banyaklah kalian bersedekah, sebab aku melihat penduduk neraka paling banyak adalah kalian kaum wanita”.
“Bagaimana bisa begitu wahai Rasul?” tanya para wanita itu lsg berdiri.
“Sebab kalian terlalu byk mencaci, dan kerap tidak bisa berterima kasih pada suami. Sungguh, aku tidak melihat orang yng minus akal dan agamanya, yang sanggup melenakan lelaki yang teguh dan kuat hatinya daripada kalian, kaum wanita”.

Para wanita itu bertanya, “Lalu apa kekurangan pada akal kami, dan kekurangan pada agama kami wahai Rosul”.
Dengan bijak beliau menjawab sambil bertanya: “Bukankah kesaksian satu wanita itu sama dgn setengah laki-laki saja?”
“ya benar”
“Nah, itu menunjukkan kekurangan dan minus pada akal wanita. Dan bukankah jika kalian menstruasi, kalian tidak sholat juga tidak puasa?”
“Ya, benar”
“Nah, itu yang menunjukkan kekurangan pada agama kalian”.



METODE 7 : Observasi kecerdasan murid.


Dalam mengajar, Rasululloh S.a.w tidak hanya sekedar menyampaikan wahyu, pesan2 umum, dan nilai-nilai moral, sementara para sahabatnya hanya mendengarkan dan menerima. Namun beliau juga melakukan tes utk mengetahui tingkat kepahaman sahabatnya, sejauh mana mereka bisa menangkap apa yg beliau sampaikan, sekaligus di waktu yang sama merangsang agar mereka mau berpikir, juga menggali bakat dan mengeksplorasi kemampuan terpendam mereka.

Hal itu dicontohkan dalam sebuah hadits riwayat Bukhori dan Muslim:
Abdullah bin umar berkata : “Ketika kita bersama Baginda Nabi, datang seseorang memberi beliau hati pohon kurma, beliaupun memakannya. Sembari menikmati hidangan itu, beliau berkata :”sesungguhnya di antara sekian banyak pepohonan, ada satu pohon, fungsinya sbagaimana orang muslim, daunnya tidak gugur, tidak tercerai berai, slalu memberikan buahnya di setiap waktu atas izin Tuhannya. Sesungguhnya ia seperti orang muslim, yg selalu berguna (semuanya, mulai dari pokok, akar, batang, daun, sampai buah dan bijinya). Katakan padaku, pohon apakah itu?”.

Abdulloh bin Umar meneruskan ceritanya :”semua orang yg ada di majlis itu menjawab dgn bermacam-macam pohon: pohon ini, pohon itu, dan sebagainya. Sementara di hatiku tersirat, bahwa pohon itu adalah pohon kurma, hanya saja aku malu mengatakannya, sebab saat itu aku masih anak-anak, dan paling kecil di situ. Aku hanya diam saja, apalagi di situ ada Abu Bakar dan ayahku Umar (namun keduanya diam, tidak ikutan menjawab). Dan tidak satupun di antara jawaban mereka yang tepat, akhirnya para sahabat menyerah.

“Wahai Rosul, beritahukan pada kami pohon apakah itu?”
“Pohon Kurma”, jawab beliau.

Setelah majlis bubar, aku berkata pada ayahku, “Demi Allah Ayahanda, tadi di hatiku terlintas bahwa pohon itu adalah kurma”.
“Lalu kenapa tidak kamu jawab anakku?” kata ayahku, Umar bin Khottob.
“Aku malu ayah, apalagi aku paling kecil,” kataku.


METODE 8 : Analogy atau kata kiasan.


Sesekali dalam mengajar, Rasulullah saw menggunakan analogi (perbandingan secara kias dgn bentuk yg sudah ada) terhadap suatu hukum atau ajaran yg kurang bisa dipahami dgn baik oleh sebagian sahabatnya, juga menjelaskan sebab-sebab akan sebuah hukum.
Dengan penyelaeasan dan analogi itu, para sahabatnya pun kemudian paham terhadap suatu hukum dan tujuan diterapkannya syariat itu (maqosid Tasyri).

dalam hal ini sperti yg beliau contohkan saat seorang perempuan dari suku Juhainah bertanya pada beliau.
“Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk haji, tetapi sampai beliau meninggal, belum sempat berhaji melaksanakan nadzarnya itu. Apakah saya bisa berhaji (menggantikannya) atas nama beliau?”

“Ya, bisa. Bukankah jika ibumu punya hutang dan belum sempat dilunasinya, lalu dia meninggal, kamu juga kan yang melunasi hutangnya?” jawab Rosul.
“ya, memang begitu”, kata wanita itu lega. (H.R. Bukhori).

Pernah juga salah satu sahabatnya bertanya, “Ya Rosul, apakah jika kita bersetubuh dengan istri kita, kita mendapat pahala?”
“Kenapa tidak? Bukankah jika kalian bersetubuh dgn wanita lain (berzina) juga mendapat dosa? Begitu juga jika kalian bersetubuh dgn wanita yang halal bagi kalian (istri-istri kalian), maka kalian juga mendapat pahala”. Jawab beliau. (H.R.Muslim).

Oleh Rasulullah hal-hal yang terkadang belum jelas hukumnya, dianalogikan secara logis oleh beliau dgn hal-hal yg sudah jelas hukumnya. Sehingga hal-hal tersebut menjadi jelas dan bisa dipaham dgn baik oleh sahabatnya.


METODE 9 : Allegori (perumpamaan) dan persamaan.


Dalam banyak kesempatan saat mengajar, beliau rasulullah juga menggunakan metode allegori (perumpamaan), utk menjelaskan suatu makna dari ajaran yg beliau sampaikan.
Dalam penjelasannya, beliau menggunakan media benda yg banyak dilihat orang, atau yang mereka rasakan, atau yang mereka pegang.

Di Al-quran sendiri byk sekali ayat yg menggunakan perumpamaan, dan tentu saja Nabi S.a.w banyak mengikuti metode Al-quran ini dalam forum2 pidato, orasi, dan cara mengajar beliau.

Salah satu contoh metode ini, sabda beliau yg diriwayatkan Abu Daud: “Perumpamaan orang mukmin yg membaca Alquran itu laksana Jeruk, wangi aromanya dan enak rasanya. Sedangkan mukmin yg tidak baca Alquran itu seperti kurma, enak rasanya tetapi tidak ada aromanya. Adapun orang munafik yg membaca al-quran itu seperti bunga, baunya harum, tapi rasanya pahit. Sedang orang munafik yg tidak prnh baca quran, itu seperti jadam, pahit rasanya juga tidak ada aromanya”.

Atau sabda beliau yg lain: “Perumpamaan teman yg baik, itu seperti pedagang minyak wangi, jika kamu tidak diberinya sedikit, maka kamu mendapat harum wanginya. Sedangkan teman yg buruk, itu seperti pandai besi, jika kamu tidak terkena percikan kecil apinya, maka kamu terkena asapnya.”

Sebab dengan perumpamaan seperti itu, terkadang suatu permasalahan tampak lebih jelas dan lebih menancap kuat dalam hati dan ingatan.

juga sabda bliau yg lain:
“Perumpamaan petunjuk (hidayah) dan ilmu yg dengannya Allah mengutusku adalah ibarat hujan yg menyirami bumi. Ada tanah yg subur dapat menyerap air lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yg rimbun. Ada tanah cadas yg menahan air lalu dengan air itu Allah memberi manfaat pada manusia yg darinya mereka minum, dan diantara air hujan itu ada yg menimpa tanah lereng yg tidak dapat menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanaman.
Yang pertama adalah perumpamaan orang yg paham agama dan apa yg kubawa sebagai utusan Allah, ilmunya bermanfaat bagi dirinya hingga iapun mengamalkan dan mengajarkan pada oranglain. Perumpamaan yg kedua adalah orang yg tidak dapat mengambil manfaat dari ilmunya, tapi oranglain dapat mengambil manfaat dari dia, sedangkan yg ketiga adalah orang yg tidak dapat menerima petunjuk yg dengannya aku diutus” (HR.Bukhari Muslim).

Nah tipe kedua sebagaimana perumpamaan hadist diatas adalah orang yg termasuk istidraj dalam ilmu. Ia dilimpahi kecerdasan sehingga mampu menyerap ilmu namun ibarat batu cadas ia hanya ditampung saja sedangkan tidak bermanfaat ilmu tersebut bagi dirinya, tapi oranglain masih bisa mengambil ilmu tersebut dari dirinya.

dengan metode perumpamaan ini, apa yg terdengar samar dari lisan nabi akhirnya bisa dipahami dan dicerna oleh sahabat dgn mudah. subhanallah.


METODE 10 : Visualisasi dengan Gambar


sejak 1400 tahun yg lalu Nabi kita telah terlebih dahulu menggunakan metode ini untuk mengajar. Beliau menjelaskan suatu hal dgn menggoreskan sebuah gambar, menggunakan media permukaan tanah.

Contoh dari itu, hadits riwayat Ahmad bin Hanbal dari Jabir bin Abdillah, ia berkata :
“Ketika kita duduk (belajar) bersama Rosul S.a.w, beliau lalu membuat garis lurus di atas tanah dengan tangannya, seraya berujar : “Ini adalah jalannya Allah Taala”.
Setelah itu, beliau membuat masing2 dua garis di sisi kanan dan kiri garis pertama tadi, sambil berkata : “Yang (empat garis) ini, adalah jalan-jalan setan”. Kemudian beliau menaruh tangan beliau di garis pertama tadi (yang kini berada di tengah) sembari membaca Q.S. Al-An’am, ayat 153 :
“Dan bahwa (yang Kami perintah) ini adalah jalanKu yg lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan2 (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.“


Begitu juga hadits yg diriwayatkan oleh Bukhori dari Abdulloh bin Mas’ud:
“Nabi S.a.w membuat gambar persegi empat, lalu menggambar garis panjang di tengah persegi empat tadi dan keluar melewati batas persegi itu. Kemudian beliau juga membuat garis-garis kecil di dalam persegi tadi di sampingnya:

lalu beliau bersabda : “Ini adalah manusia, dan (persegi empat) ini adalah ajal yang mengelilinginya, dan garis (panjang) yang keluar ini, adalah cita-citanya. Dan garis-garis kecil ini adalah penghalang2nya. Jika tidak (terjebak) dengan (garis) yang ini, maka kena (garis) yang ini. Jika tidak kena (garis) yang itu, maka kena (garis) yang setelahnya. Jika tidak mengenai semua (penghalang) tadi, maka dia pasti tertimpa ketuarentaan.”


Lewat visualisasi gambar ini, Nabi S.a.w menjelaskan di hadapan para sahabatnya, bgaimana manusia dgn cita-cita dan keinginan2nya yang luas dan banyak, bisa terhalang dengan kedatangan ajal, penyakit-penyakit, atau usia tua. Dengan tujuan memberi nasehat pada mereka untuk tidak (sekedar melamun) berangan-angan saja (tanpa realisasi), dan mengajarkan pada mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Diriwayat lain, Nabi S.a.w juga membuat 4 garis di atas tanah, lalu bertanya pada sahabat2nya : “Kalian tahu, apa maksudku menggambar garis-garis ini?”
“Allah dan RosulNya lebih tahu,” jawab mereka.
“Ini adalah empat wanita termulia dari penduduk surga, Khadijah binti Khuwailid (istriku), Fathimah binti Muhammad (putriku), Maryam binti Imron (Ibunda Nabi Isa A.s), dan Asiah binti Muzahim, Istri Fir’aun.”


METODE 11 : Menggunakan isyarat gerak tangan saat menerangkan.

Menggunakan gerakan dan isyarat tangan saat mengajar adlh termasuk salah satu cara untuk membuat murid memahami materi yg disampaikan, hal ini lebih efektif dibandingkan seorg guru yg hanya sekedar duduk sambil membacakan atau menerangkan pelajaran tanpa gerak sama sekali.

Rosulullah pun sangat memperhatikan hal ini, tak jarang saat menerangkan bliau juga melakukan gerakan tangan agar lebih menancapkan kepahaman di benak sahabatnya. Terlebih saat berpidato dan berkhotbah.
Sebagaimana riwayat Bukhori-Muslim, Rasulullah bersabda :
“Antara sesama orang mukmin itu laksana sebuah bangunan, saling mengkuatkan antara satu dgn yang lainnya.” Ujar beliau seraya mencengkeramkan erat antara jari jemari kedua tangan mulia beliau.

Begitu juga diriwayat lain Bukhori, Rasul bersabda: “Aku dan pengasuh anak yatim seperti halnya ini di surga nanti.” Sambil mengangkat dan menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah beliau yang saling berhimpitan.


METODE 12 : Penggunaan Alat Peraga.

Termasuk cara utk membantu murid dlam memahami suatu materi pelajaran, adalah menggunakan alat peraga. Dan hampir semua pendidikan modern saat ini menggunakan metode ini.

Dan trnyata rasulullah telah terlebih dahu menggunakannya, semisal ketika beliau melarang penggunaan suatu benda, beliau mengangkat dan menunjukkan benda itu di hadapan sahabat, untuk lebih menekankan larangan dan keharaman benda tersebut.

Diriwayatkan oleh Abu daud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, dari Ali bin Abi Tholib, beliau bertutur: “Rosulullah S.a.w mengambil (dan membawa) sutera di tangan kirinya, dan emas di tangan kanannya. Lalu kedua benda itu di angkat olehnya (agar para sahabat bisa melihatnya). Kemudian beliau bersabda : “sesungguhnya dua benda ini (emas dan sutera) haram bagi kaum laki-laki, tapi halal bagi kaum wanita.”

Di kesempatan lain, Nabi mengambil sejumput bulu unta hasil rampasan perang, seraya menunjukkan bulu itu ditangannya, beliau bersabda : “Bagian (jatah) yang aku dapat dari harta rampasan ini, sama dengan yang kalian dapat. Awas! Jangan korupsi! Sebab sesungguhnya korupsi adalah kehinaan bagi pelakunya pada hari kiamat nanti” (H.R.Ahmad).

METODE 13 : Keterangan Langsung

Dalam hal2 yang dianggap sangat penting, Rasululloh sering kali menyampaikannya dgn menerangkan secara langsung suatu permasalahan tadi tanpa menunggu pertanyaan dari sahabatnya, atau beliau memancing pertanyaan.
misal beliau mengajarkan jawaban atas sebuah keraguan, sebelum keraguan itu terjadi, mengantisipasi agar keraguan itu tidak mengakar dalam jiwa, dan berdampak negatif di kemudian hari.

contoh dlm hal ini adlh sebuah hadist riwayat Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah : “Rosululloh S.a.w bersabda :”setan datang kepadamu dan berbisik dalam hatimu, “siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?”, sehingga sampai pada pertanyaan, “Siapa yang menciptakan Tuhanmu?”, jika sampai pada pertanyaan ini di hati kalian, segeralah berlindung pada Allah ta’ala (dari bisikan setan) dan putus pikiran itu ! dan meludahlah 3x ke samping kiri kalian”.


METODE 14 : Menjawab setiap pertanyaan, dan memancing murid untuk berani bertanya.

Sebagai salah satu sifat pengajar yg baik, adalah menjawab dgn bijak setiap pertanyaan yg keluar dari murid, apapun jenis pertanyaan itu, dan mendorong mereka untuk selalu berpikir kritis dan berani bertanya. Sebab bisa jadi ada hal-hal yg penting yang tidak terlintas di hati pengajar, namun terlintas di benak muridnya yang berhubungan dengan materi yang sedang dibahas dan disampaikan.

Rosululloh telah mencontohkan hal tersebut dan sangat menganjurkannya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya”(HR.Bukhari).

Di Alquran surat Al-Nahl ayat : 43 disebutkan: “…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.“

Sebuah pepatah terkenal mengatakan, “malu bertanya, sesat di jalan”.
Bahkan sebenarnya banyak sekali hukum, syariat, dan ajaran agama yg diajarkan rasulullah timbul terlebih dahulu melalui pertanyaan sahabat2nya sebelumnya. Dan atas anjuran ayat dan dorongan dari Nabi sendiri itulah, para sahabat pun banyak bertanya pada beliau akan hal-hal yang masih samar dan kurang jelas. Dan kitab-kitab hadits penuh dengan contoh metode ini.

Sudah tentu merupakan hal yng wajar dan seharusnya terjadi jika dlam kegiatan belajar mengajar terjadi proses soal dan jawab. Dengan metode ini, dituntut adanya hubungan interaktif antara guru dan murid. Juga merupakan keharusan seorang guru utk memberikan semangat pada murid utk berani bertanya, sebab dengan bertanya, terjadi perkembangan pesat pada otak dan membuka cakrawala berpikir si murid.


METODE 15 : Menjawab satu pertanyaan dengan dua jawaban atau lebih.


Umumnya, jika ada satu pertanyaan, maka jawabannya pun juga satu. Namun kadang Nabi menjawab satu pertanyaan dgn dua jawaban atau lebih. Yang antara kedua jawaban itu saling ada korelasi dan kaitan satu sama lain. Atau juga dgn tujuan memberikan pelajaran tambahan.

Hal ini menunjukkan bgaimana besarnya perhatian beliau pada orang yg bertanya, dan tentu saja secara alamiah seorang murid akan sangat merasa diperhatikan oleh gurunya, jika guru itu memberikan jawaban lebih daripada yg dibutuhkan murid tadi, yang bisa berdampak positif pada perkembangan edukasi murid.

Contoh metode ini, Hadits riwayat Imam Malik dari Abu Hurairah: “Ada seseorang bertanya pada rasulullah :”Ya Rosul, ketika kita berlayar (di laut), kita hanya membawa sedikit bekal air minum. Jika kita berwudhu dengannya, nanti kita kehausan. Apakah boleh berwudhu dengan air laut?”.

Rosulullah menjawab : “(boleh), laut itu suci airnya, juga halal bangkai binatangnya”.


Nah, Rosulullah mnjawab pertanyaan nelayan tadi tentang hukum berwudhu pakai air laut, bahwa sesungguhnya airnya suci dan sah dipakai berwudhu, SEKALIGUS beliau menambahi jawaban akan suatu hal penting yg tidak ditanyakan nelayan tadi, yaitu bahwa bangkai makhluk hidup yang berasal dari laut (seperti ikan) juga halal dimakan dan dimanfaatkan. Suatu hal yang pasti tentu saja terjadi di dunia pelayaran.

Contoh lain, hadits riwayat Muslim: Waktu itu sedang musim haji, ada seorang perempuan bertanya pada rasulullah, sembari dia mengangkat anaknya: “Wahai Nabi, apakah anak kecil ini sah juga hajinya?”
Beliau menjawab : “Iya, sah, dan kamu juga dapat pahalanya”.


Hal itu sebab si ibu tadi telah bersusah payah membawa anaknya yg masih kecil untuk menunaikan ibadah haji. Dan siapapun yang pernah haji juga tahu, bahwa haji adalah ibadah fisik yg sangat berat.


METODE 16
: Mengalihkan pembahasan.

Meski seperti itu, yang telah dijelaskan di metode sebelumnya, tidak semua pertanyaan harus dijawab; melihat situasi, kondisi, materi yang sedang dibahas, juga kebijakan tersendiri yang tentu saja diketahui seorang pengajar.
Rosululloh S.a.w terkadang juga melakukan hal ini, dengan membelokkan pembahasan dan mengalihkan perhatian.
Seperti ketika ada orang yang bertanya pada beliau: “Wahai Rosul, kapan hari kiamat terjadi?”

“Apa yang kamu siapkan untuk menyongsongnya?” Rosul S.a.w balik bertanya pada orang itu

“Aku tidak menyiapkan banyak sholat, atau puasa, atau sedekah. Tetapi cukup bagiku cinta Allah dan cinta pada Rosul-Nya.” Jawab orang itu

“(kalau begitu) kamu bersama-sama yang kamu cintai”, kata Rosul bijak. (H.R.Bukhori dan Muslim)
Jelas sekali dalam peristiwa ini Rosululloh S.a.w tidak menjawab pertanyaan orang tadi yang menanyakan kapan Hari H-nya hari kiamat. Tetapi bahasannya dialihkan kepada hal yang lebih penting daripada sekedar itu kepada si penanya tadi.


METODE 17
: Meminta murid mengulangi pertanyaannya
Terkadang untuk sebuah pertanyaan yang telah dijawab, Rosululloh S.a.w menyuruh lagi orang yang bertanya padanya untuk mengulangi apa yang ditanyakannya barusan, hal itu beliau lakukan dengan tujuan untuk menambahkan jawaban susulan sekaligus menambahkan ilmu dan keterangan, juga memantapkan kepahaman pada yang lain.
Sebagaimana contoh dalam hadits riwayat Muslim dan An-Nasa’i dari Abu Qotadah:
“Suatu hari Rosululloh S.a.w berkhotbah dan mengingatkan bahwa jihad fi sabilillah dan iman kepada Allah adalah amalan yang terbaik. Kemudian ada seseorang berdiri dan bertanya : “Wahai Rosul, bagaimana jika aku gugur karena membela agama Allah, apakah semua dosa-dosaku diampuni?”

“iya, jika kamu gugur di jalan-Nya dengan catatan sabar, mengharap pahala dari-Nya, serta terus maju (berjuang) pantang mundur”, jawab Rosul.

Sejenak kemudian beliau berujar : “bagaimana? Apa yang kamu tanyakan tadi?”

“Bagaimana jika aku gugur karena membela agama Allah, apakah semua dosa-dosaku diampuni?” kata orang itu lagi

“Iya, jika kamu sabar, mengharap pahala, maju terus pantang mundur. Kecuali (jika kamu mempunyai) hutang (dan itu harus kamu lunasi)” Tjawab Rosul S.a.w.


METODE 18
: Melatih kepekaan murid dengan melempar alih pertanyaan

Salah satu metode Rosululloh S.a.w untuk melatih dan mendidik sahabat-sahabatnya adalah dengan memberi tugas pada sahabat tersebut untuk menjawab persoalan yang ditanyakan pada beliau. Dengan kata lain, jika ada pertanyaan, beliau S.a.w tidak menjawab langsung pertanyaan itu sendiri, tetapi menyuruh salah satu sahabatnya untuk menggantikannya menjawab, dan itu di hadapan beliau langsung.
Contoh dari metode ini, sebagaimana yang dituturkan oleh Abdulloh bin Amru bin Ash:
“Suatu hari, datang dua orang yang bersengketa pada beliau, (mengadukan apa yang sedang terjadi di antara keduanya), namun beliau tidak menyelesaikan sendiri persengketaan itu, tetapi beliau menyuruh (ayahku) Amru bin Ash untuk memberikan keputusan (atas persengketaan itu). Tentu saja ayahku terheran-heran, “Dan engkau di sini wahai Rosul?!”

“Iya”, jawab beliau

“Lantas, apa yang harus aku putuskan? (jika ada engkau)” tanya ayahku lagi.

“jika kamu berijtihad, dan kamu benar, maka kamu dapat 10 pahala. Jika ijtihadmu salah, kamu dapat 1 pahala”, ujar Rosul S.a.w (HR.Ahmad dan Daroquthni) .

Kejadian yang sama juga di alami Uqbah bin Amir al-juhani. Atau di kesempatan lain, saat ada orang datang pada beliau untuk memintanya menafsiri mimpinya. Rosululloh S.a.w tidak langsung menafsirinya sendiri, tetapi menyuruh Abu Bakar Assiddiq untuk menafsirkannya. Dan tentu saja jika salah, beliau akan mengklarifikasi dan meluruskannya.

METODE 19 : Melakukan tes dan ujicoba

Sebagai pengajar, tentu Rosululloh S.a.w tahu apa yang harus beliau lakukan. Dalam kesempatan tertentu, untuk mengetahui kecerdasan sahabatnya dan sejauh mana pengetahuan mereka, juga kepahaman dan ingatan mereka atas apa yang telah beliau ajarkan, beliaupun terkadang melakukan tes dan ujian kepada sebagian sahabatnya. Jika jawaban mereka tepat, beliau memujinya dan menepuk-nepuk dada sahabat tersebut (sekaligus mendoakannya). Tanda akan rasa bangga dan bahagia beliau atas jawaban yang sangat memuaskan tadi.

Contoh dari itu, yang beliau lakukan pada Ubay bin Ka’ab, Rosul bertanya kepadanya : “Abul mundzir – panggilan Ubay – , ayat apa di dalam Al-qur’an yang paling agung?”

“Allah dan Rosul-Nya lebih tahu”, jawab Ubay

Rosul mengulangi lagi pertanyaan beliau : “Abul Mundzir! Kamu tahu tidak ayat apa yang paling agung dalam Al-Qur’an?!”

(Ayat kursi)”, jawab Ubay pada akhirnya.

Rosul S.a.w pun dengan bangga menepuk-nepuk dada Ubay, “Bagus, bagus hai Abul Mundzir”.

Contoh lain yang sangat terkenal adalah saat beliau mengirim Mu’adz bin Jabal untuk berdakwah ke Yaman. Sebelum berangkat beliau menguji kemampuan dan kelaikan Mu’adz.
“Jika ada suatu kejadian, apa yang akan kamu lakukan? Akan kamu putuskan dengan apa?” tanya Rosul.

“Aku putuskan dengan kitab Allah (Alqur’an)”, jawab mu’adz

“Jika kamu tidak menemukannya dalam Alqur’an?”

“Aku putuskan dengan Sunnah Rosul-Nya”.

“Jika tidak kamu temukan dalam Sunnah Rosul-Nya?”

“Aku berijtihad dengan menggunakan pendapatku sendiri (yang sesuai dengan Al-qur’an dan As-sunnah), dan aku tidak menguranginya (juga tidak berlebihan)”.

Rosululloh S.a.w menepuk dada Mu’adz seraya berujar, “Alhamdulillah, Yang telah Memberikan ketepatan (berpikir) pada utusan Rosul-Nya, terhadap sesuatu yang meridhokan (dan membuat puas) hati Rosul-Nya,” (H.R. Abu Daud dan Tirmidzy).


METODE 20
: Konsensus terhadap sesuatu dengan tanpa kata
Metode ini adalah salah satu bagian dari definisi Assunnah  yang oleh para pakar ilmu Ushul fiqih dan ulama’ hadits disebut dengan istilah Taqrir, yaitu sesuatu yang terjadi di hadapan Nabi S.a.w, atau sesuatu yang beliau dengar dari ucapan dan perbuatan sahabatnya (yang mereka lakukan tanpa beliau ajarkan terlebih dahulu) dan beliau menyetujui ucapan atau tindakan itu dengan diam (tanpa kata).
Nah, diamnya beliau ini menunjukkan diperbolehkannya ucapan atau tindakan itu. Dan tentu sebagai pengajar, kita terkadang mendapati hal seperti itu yang muncul dari inisiatif murid kita sendiri. Jika salah tentu saja kita harus menegur dan meluruskannya, dan jika benar, maka kita bisa menyetujuinya dengan tanpa harus berbicara.
Salah satu contoh taqrir (persetujuan) Nabi S.a.w adalah ketika beliau mengutus 300 sahabatnya dalam ekspedisi Dzat As-salaasil, di bawah komando salah satu jenderal beliau, Amru bin Ash. Pada saat itu musim dingin sedang dalam puncaknya, suatu malam Amru bin Ash bermimpi basah, dan karena takut dengan bahaya yang menimpa dirinya jika mandi besar dalam cuaca seperti itu, maka dia tidak mandi junub, tetapi hanya bertayammum dengan debu, dan setelah itu dia mengimami sholat jamaah pasukan tersebut.

Sepulang dari ekspedisi, dan setiba mereka di Madinah, para Sahabat melaporkan pada Nabi S.a.w atas apa yang telah dilakukan Amru, karena Nabi tidak pernah mengajarkan pada mereka soal ini.

Nabi pun memanggil Amru, “Amru, kamu memimpin sholat berjamaah sementara kamu junub (dan berhadats besar)?”

Amru pun memberitahu pada Nabi apa yang mencegahnya untuk mandi sambil menyitir Al-Qur’an surat Annisa’, ayat 29.

…dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Maka Nabi pun tertawa dan tidak berkata apa apa", (HR.Abu Daud).

Beliau juga tidak menyalahkan tindakan Amru itu, juga tidak menyuruhnya mengulangi sholat (yakni sholatnya tetap sah). Dari sini inferensi (istid-lal) diperbolehkannya tayammum saat cuaca dingin menggigit, sebab senyum beliau menunjukkan persetujuan, dan Nabi S.a.w tidak pernah menyetujui hal-hal yang salah dan batil. Padahal apa yang dilakukan Amru itu tidak pernah Nabi ajarkan padanya atau sahabat-sahabat yang lainnya.


Bersambung bag 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar